Featured Slider

Buku Diary Menyimpan Peluang Baru dari Catatan Lama


Halaman-halaman buku diary saya lebih sering basah oleh emosi yang sendu dari pada tawa yang meledak atau histeris senang atas suatu pencapaian. Isi diary saya didominasi curhatan tentang rasa kecewa, gagal, patah hati, rasa lelah, hingga overthinking yang tak kunjung reda. Seolah-olah diary menjadi tempat pelarian paling aman ketika hidup terasa berat. Diary seperti ruang sunyi yang setia menampung segala keluh kesah tanpa interupsi dan tanpa penghakiman.

Lima Buku yang Harus Tuntas di Tahun 2026



Ada yang pernah membaca serial “Laura Ingalls Wilder?” Beberapa orang yang membaca serial tersebut akan terinspirasi dengan kehangatan keluarga Laura Ingalls yang hidup sederhana namun memiliki kekayaan batin dan kualitas hidup yang sangat berharga. Bagaimana tidak? Keluarga Ingalls yang tinggal di rumah mungil berdinding batu dan beratap jerami ini, tak pernah kekurangan suatu apapun.

Di Lima Tempat Ini, Jiwa Belajar Pulang

Banyak tempat yang recall diri saya untuk selalu datang dan berlama-lama di sana, sekadar untuk duduk merenung sambil ditemani kopi atau teh, serta cemilan favorit dan buku. Rasanya buat saya “surga” banget kalau sudah berada di sana. Bukan karena kemewahannya, tapi tempat-tempat tersebut selalu berhasil mengembalikan kepada diri untuk terkoneksi lebih dalam. Jika sudah terkoneksi, energi saya penuh kembali dan merasa lahir menjadi versi terbaik diri sendiri. Yang tadinya menyerah, lelah, atau demotivasi, tapi saat energi dan jiwa memperoleh charging dari sana, kekuatan pun kembali dan siap menghadapi berbagai tantangan di depan mata!

Wejangan dari Pak Chairul Tanjung di Hari Jadinya yang Ke-60

 

Sumber foto: CNBC Indonesia

“Usaha yang saya bangun hingga saat ini, perjalanannya lebih dari empat puluh tahun. Jadi, kalau Adik-adik yang hadir di sini belum mencapai apa yang  menjadi goal usahanya, sabar. Terpenting yang harus dilakukan adalah jangan berhenti berproses, apa lagi menyerah!”

Fany Efrita, Menyalakan Bara Semangat dari Sintang Untuk Inklusi Digital Indonesia

Sumber foto: Koleksi pribadi dengan olahan Canva

Aku memiliki keterbatasan fisik tapi aku bisa naik sepeda, naik motor, nyetir mobil, suka olah raga, dan menjadi sarjana. Aku cukup percaya diri dari kecil hingga kuliah. Tapi, saat bekerja di sebuah bank, pimpinan yang memutus perjalanan karier saya saat ada pengangkatan karyawan tetap, sangat menohok!

Moment itu seketika membuatku terhempas oleh badai yang langsung menyadarkanku bahwa “oh aku ini berbeda”

Blogdetik: Rumah, Kampus Digital, dan Keluarga Selamanya

Saat perpisahan dengan Blogdetik (Sumber: Facebook Album Blogdetik)

Bulan Juli 2008 jemari saya mengarah ke microsite Blogdetik yang tertera di bagian rubric detik.com. Spontan saya membuat akun di sana dan mulai menulis. Ketagihan! Karena saya merasa mendapatkan wadah untuk menyalurkan hobi menulis saya selama ini. Cerpen-cerpen yang masih mengendap di folder, opini pribadi yang masih berkecamuk dalam benak dan berisik di otak, langsung semuanya mengalir dalam dasbor yang akhirnya terpublikasikan.

Buku Tips Praktis Membangun Personal Branding dari Dr. Rubiyanto


Buku berjudul Personal Branding, Dalam Komunikasi Media Digital Konsep & Model antara Merek, Brand dan Produk karya Dr.Rubiyanto, M.M saat itu lewat di timeline instagram saya, tanpa ragu saya langsung memesan di e-commerce karena selain saya sedang membutuhkan ilmu tersebut, juga penulisnya adalah dosen saya.

Selama ini, persepsi tentang personal branding banyak yang memahami secara permukaan saja, sehingga masyarakat awam hanya mengikuti apa yang diinstruksikan oleh instruktur sebuah pelatihan personal branding hanya dalam satu elemen, yaitu soal identitas dan ciri khas. Hal ini banyak ditemui di beberapa sesi pelatihan yang saya ikuti. Dari sana, saya berusaha mencari tahu lebih banyak lagi informasi tambahan yang dapat memuaskan dahaga saya terhadap pengetahuan soal branding ini.